Kalau kita bedah sejarahnya, silsilah mokel ini sebenarnya berawal dari masa kecil. Ingat tidak waktu kita masih SD dan diajarkan "Puasa Bedug"? Kita boleh makan jam 12 siang, lalu lanjut lagi sampai Maghrib. Nah, mokel adalah versi "dewasa" yang gagal move on dari sistem puasa bedug tersebut. Bedanya, kalau dulu kita makan di depan orang tua sambil pamer, sekarang kita melakukannya dengan keahlian setingkat agen rahasia.
Silsilah ini terus berkembang seiring meningkatnya kreativitas manusia. Dari yang awalnya cuma sekadar "nggak sengaja" minum air keran pas wudu, sampai level mahir yang punya titik koordinat warteg mana saja yang kelambunya tertutup paling rapat tapi tetap melayani pesanan es teh manis.
Di Indonesia, pelaku mokel itu punya faksi-faksinya sendiri. Mungkin kamu pernah bertemu salah satunya:
Tidak lengkap bicara mokel tanpa menyebut warteg berkelambu. Fenomena ini adalah bukti toleransi sekaligus ironi yang estetik. Kelambu yang menggantung hanya menyisakan celah untuk melihat kaki-kaki orang di dalamnya. Di luar, suasananya sepi dan religius, tapi di balik kain itu, ada konser bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Mokel di sini punya kode etik tak tertulis: kalau ketemu teman di dalam warteg, dilarang saling sapa atau saling lapor. Kita adalah rekan senasib yang sedang dalam misi penyamaran.
Tentu saja, artikel ini tidak bermaksud mengajakmu untuk mokel. Bagaimanapun, esensi puasa adalah menahan diri—bukan cuma menahan lapar, tapi menahan nafsu untuk tidak menjadi aktor watak yang berpura-pura lemas.
Tapi tidak bisa dipungkiri, cerita-cerita tentang mokel selalu jadi bumbu humor yang membuat Ramadan di Indonesia terasa sangat "manusiawi". Karena pada akhirnya, kita semua tahu bahwa godaan es teh manis di jam 1 siang saat matahari sedang galak-galaknya adalah ujian mental yang butuh iman setebal baja.
Kamu punya cerita mokel yang paling nggak masuk akal?
