Kita semua pasti pernah ada di fase ini: duduk di meja makan jam 3 pagi dengan mata setengah terpejam, menatap piring yang gunungannya mengalahkan Gunung Rinjani. Nasi sebakul, mie instan, gorengan, ditambah teh manis hangat. Di kepala kita, logikanya sederhana: "Makan sebanyak-banyaknya mumpung belum imsak, biar siangnya nggak lemes!"
Tapi anehnya, jam 10 pagi perut sudah keroncongan konser rock, dan mata rasanya berat banget minta dipakai tidur. Kok bisa? Bukannya tadi bahan bakarnya sudah full tank?
Ternyata, kebiasaan "balas dendam" saat sahur ini justru jadi bumerang buat tubuh kita. Mari kita bedah alasannya dari kacamata medis dan juga pesan langit.
Kalau kamu sering menyimak edukasi kesehatan dari dr. Tirta, beliau sering banget mengingatkan soal bahaya makan berlebihan saat sahur, terutama kalau didominasi karbohidrat (seperti nasi putih porsi besar atau mie) dan makanan manis.
Secara medis, begini prosesnya: Saat kamu memasukkan karbohidrat dan gula dalam jumlah masif ke dalam tubuh secara bersamaan, kadar gula darahmu akan melonjak drastis. Nah, tubuh kita punya sistem alarm otomatis. Melihat gula darah meroket, organ pankreas akan panik dan langsung menyemprotkan hormon insulin dalam jumlah besar untuk menormalkan gula darah tersebut.
Hasilnya? Gula darah yang tadinya terbang tinggi, akan langsung terjun bebas alias drop. Fase drop inilah yang dibaca oleh otakmu sebagai: LAPAR, LEMAS, dan NGANTUK BERAT.
Alih-alih jadi tenaga cadangan, porsi raksasa itu malah merusak ritme energimu sendiri.
Biar lebih gampang dicerna, bayangkan tubuhmu itu sebuah tungku perapian, dan makanan sahurmu adalah bahan bakarnya. Tujuannya adalah membuat api (energi) tetap menyala stabil sampai waktu buka puasa.
Jauh sebelum ilmu medis modern menemukan konsep insulin spike dan gula darah, panduan hidup kita sebenarnya sudah memberikan warning yang sangat jelas tentang hal ini.
Dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 31, Allah berfirman:
"...Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
Bahkan, Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat spesifik dan sangat make sense secara medis lewat sebuah hadis:
"Tidak ada wadah yang lebih buruk yang dipenuhi oleh manusia daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus lebih dari itu, maka jadikanlah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi).
Dalil-dalil ini membuktikan bahwa Islam itu agama yang sangat rasional. Perintah untuk "jangan berlebihan" bukan sekadar aturan mengekang nafsu, tapi bentuk perlindungan agar tubuh kita tidak 'korslet'.
Bukan berarti kita harus sahur cuma pakai air putih dan niat (ya lemas juga kalau ini mah). Kuncinya ada di kualitas, bukan kuantitas.
Puasa itu momen untuk mengistirahatkan pencernaan, bukan memindahkan jadwal makan siang jadi jam 3 pagi. Yuk, sahur lebih cerdas biar siang harinya tetap bisa produktif dan nggak jadi zombi!